Revolusi Uang Seribu


Sependek yang saya tahu dan sepanjang yang saya punya, koin rupiah senilai Rp1.000 baru saya temui sekali. Koinnya bagus, bimetal, kuning dan putih mengkilap. Cetakannya keren, bahannya juga berkualitas sampai-sampai dulu di akhir dekade 90-an seringkali koin itu ditempa ulang untuk dibuat cincin. Entah itu melanggar hukum atau tidak, saya pun sempat sekali memiliki cincin tempaan koin Rp1.000 itu. Koin Rp1.000 bimetal ini -sependek yang saya tahu dan sepanjang yang saya punya- sempat dicetak pada tahun 1993, 1994, 1995, 1996, 1997, dan tahun 2000. Sayangnya, entah kenapa koin Rp1.000 makin lama makin sulit dijumpai. Kembali lagi deh ke uang kertas.
Mungkin saya terlambat menyimak berita, ternyata minggu lalu menjelang akhir bulan Juli 2010 ini telah beredar koin baru Rp1.000. Saya belum memegangnya dengan tangan saya sendiri -maklumlah di desa memang agak lambat menerima sesuatu yang baru-, namun dari menyimak foto, sepertinya koin ini jauh lebih rendah kualitasnya dibanding koin bimetal yang pernah terkenal itu. Satu kesan saya, ternyata nilai rupiah sudah sedemikian terpuruk.
Menurut kabar berita, uang logam Rp1.000 selama 2010 akan dicetak sekitar 719 juta keping atau setara Rp719 miliar. Dari jumlah itu, uang logam Rp1.000 yang sudah dicetak sampai saat ini (berita tanggal 27/7) berjumlah sekitar 300 juta keping atau Rp300 miliar.
Pencetakan uang baru Rp1.000 ini beriringan dengan dikeluarkannya pecahan baru Rp10.000 yang (menurut kabar berita) rencananya akan dicetak 820 juta bilyet, setara Rp8,2 triliun. Dari jumlah itu, uang baru Rp10.000 yang sudah dicetak sampai saat ini (berita tanggal 27/7) sekitar 120 juta bilyet atau Rp1,2 triliun.
Ya sudahlah! urusan naik-turunnya mata uang adalah urusan para ekonom yang berwenang mengatur perekonomian negara.  Asalkan mereka tidak korupsi, itu sudah cukup baik. Paling-paling yang bisa kita lakukan adalah berhemat devisa dengan sesedikit mungkin menggunakan produk luar negeri dan sebanyak mungkin menggunakan produk kita sendiri. Apa bisa ya? Sedangkan serbuan produk luar berharga miring bahkan njengking semakin menggila. Bila dibuat di dalam negeri pun menjadi tidak cucuk lagi. Yah, begitulah keadaan sekarang… Kita masih terjajah dan harus terus berjuang.
Istirahat sejenak dari memikirkan itu, sepertinya asyik sekali menyimak kembali uang pecahan Rp1.000 dari dulu sampai sekarang. Mungkin gambar yang saya sajikan kurang lengkap, mohon sedulur berkenan menambahkan.











Pecahan Seribu Rupiah Tahun 1968 -setahun sebelum saya lahir, bisa jadi ortu saya bayar bidan pakai pecahan ini!-







0 komentar:

Posting Komentar

Trackbacks/Pingbacks

Archive Post