Listrik Prabayar Cegah Pembengkakan Biaya

DEPOK - Untuk mence­gah pemakaian listrik berle­bihan dan pembengkakan biaya, Perusahaan Listrik Negara (PLN) Kota Depok, Jawa Barat, mendorong ma­syarakat agar menggunakan LPB (Listrik Prabayar). Pe­langgannya dapat mengeta­hui besaran pemakaian lis­triknya setiap hari dan me­ngurangi risiko kebocoran. "LPB juga dapat mengu­rangi kesalahan pencatatan meteran listrik karena sudah digitalisasi". Selain itu, me­nurut Humas PLN Kota De­pok, Setiabudi, saat dihu­bungi Republika, Sabtu (25/7), untuk menggunakan LPB, pelanggan dikenakan biaya migrasi sebesar Rp 850 ribu. Biaya ini untuk meng­ganti meteran konvesional dengan yang digital.

Meteran digital akan ber­bunyi dan lampunya menyala apabila token (pulsa listrik) hampir habis. Token tersedia di loket-loket Payment Point Online Bank (PPOB) dengan besaran dari Rp 20 ribu hingga Rp 1 juta. "Pelanggan dapat menge­cek pemakaian token dengan menggunakan kode, seperti cek pulsa di HP," ujar Setia­budi. Ia menjelaskan, sebenar­nya program LPB diperke­nalkan di Kota Depok sejak April 2009. "Setiap pelang­gan yang ingin memasang instalasi listrik baru selalu kami tawarkan model LPB, atau petugas PLN yang di lapangan juga menyosialisasikan LPB ini," tuturnya.

Saat ini, telah terdapat 1.600 pelanggan LPB dari 5.000 perangkat meteran di­gital yang disediakan PLN Jawa Barat pada 2009. "Pe­langgan PLN di Kota Depok mencapai 461 ribu, jadi ini baru sekitar 1,6 persen saja. Tapi, ke depan pelanggan LPB bertahap akan kita per­banyak," kata Setiabudi. Seluruh pelanggan yang masuk dalam UPJ (Unit Pela­yanan Jaringan) Kota Depok meliputi Bojong, Cimanggis, Cibinong, dan Sawangan sudah dapat dilayani.


Sumber: Republika

HaGe - http://dunia-listrik.blogspot.com

0 komentar:

Posting Komentar

Trackbacks/Pingbacks

Archive Post